Siapa yang tak kenal naga? Dalam tradisi Tiongkok, salah satu shio adalah naga makhluk legendaris yang tak pernah nyata di dunia kita. Tapi, legenda naga ada di hampir semua budaya, dari Timur sampai Barat, meski bentuknya berbeda-beda (Eberhard, 1986; de Visser, 1913).
![]() |
| Rhaenyra dan naganya dalam House of Dragon |
Pertanyaannya:
kalau naga memang pernah ada, mengapa mereka menghilang? Beberapa cerita
mengatakan, naga “pamit” karena manusia serakah. Di zaman dulu, manusia bisa
hidup 200–300 tahun atau lebih, tapi ada yang malas berusaha dan justru ingin
abadi dengan cara instan: memburu naga untuk dimakan dagingnya (Campbell,
1949). Tentu saja, hal ini membuat para naga risih dan memilih bersembunyi entah
ke laut, perut bumi, atau langit lalu perlahan menjadi makhluk gaib.
Sejak
masuk ke zaman Kaliyuga, sekitar 432 ribu tahun lalu menurut mitologi Hindu,
moral manusia mulai menurun (Bhattacharyya, 2003). Bahkan kekuatan kecil pun
bisa menyebabkan kekacauan. Dari kehancuran Atlantis (Plato, Timaeus &
Critias) sampai banjir Nabi Nuh (Al-Quran, Surah Hud: 25–48), legenda
mengatakan bumi beberapa kali nyaris hancur karena sifat buruk manusia. Kemerosotan
moral ini yang membuat banyak gerak manusia semakin dibatasi dengan dipisahkannya alam manusia dan alam gaib termasuk berinteraksi
dengan makhluk naga.
Namun ada
yang beruntung. Mereka yang menapaki jalan spiritual, seperti para wali misal Sunan
Gunung Jati dan Sunan Kalijaga dikatakan mampu menaklukkan naga. Tapi ini
terjadi sekitar 500 tahun lalu (Ricklefs, 2001). Di era modern, tantangan jauh
lebih berat. Usia manusia pendek, dan meski sudah mulai sadar, kita tetap
membawa “warisan energi” leluhur yang perlu dimurnikan. Jadi, “menaklukkan
naga” sekarang lebih soal penyucian diri daripada pertarungan fisik dan itu pun
sudah luar biasa.
Pusaka Karomah Sunan Gunung
Jati
- Kejadian: Keris ini konon muncul tanpa gagang dan warangka di hadapan Sunan Gunung Jati ketika beliau sedang berzikir pada malam Lailatul Qadar.
- Perubahan: Sebuah ular naga besar kemudian berubah menjadi keris dengan kehendak Allah SWT.
- Nama: Dinamakan "Sanghyang Naga" karena munculnya dari kejadian yang menyerupai naga besar yang turun dari langit.
- Pemberi: Ki Bongkok, salah satu murid Sunan Gunung Jati, kemudian membuatkan warangka (sarung) dan gagang untuk keris tersebut.
- Penyebaran Islam: Dipercaya memiliki kesaktian yang membantu Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Pasundan.
- Penaklukan wilayah: Keris ini digunakan sebagai pendamping Sunan Gunung Jati saat menaklukkan Jakarta dan Sunda Kelapa.
- Peran spiritual: Diyakini bahwa keris ini adalah wujud mukjizat yang dapat mendatangkan energi spiritual ilahiyah bagi orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Pelaksanaan hukuman: Dalam beberapa catatan, keris ini digunakan untuk mengeksekusi mati Syekh Siti Jenar.
Naga
dalam Mitologi dan Budaya Nusantara
1. Naga
dalam Kosmologi Jawa-Bali: Naga Banda dan Naga Raja
Naga
memegang peran sentral sebagai penjaga bumi dan simbol kesuburan. Dalam
mitologi Jawa dan Bali, terdapat sosok Naga Banda yang digunakan dalam
upacara keagamaan seperti Ngaben (upacara pembakaran jenazah di Bali)
sebagai simbol pengembalian roh ke alam semesta. Selain itu, Naga Raja
dipercaya sebagai penguasa bumi atau dunia bawah (perwujudan dari Anantaboga),
berlawanan dengan Garuda yang menguasai langit. Naga juga dilambangkan
pada arsitektur pura, candi, dan keraton sebagai penjaga gerbang dari kekuatan
jahat.
2. Naga
di Kalimantan: Lembuswana
Di
Kalimantan Timur, simbol yang sangat populer adalah Lembuswana, makhluk
mitologi yang merupakan perpaduan antara lembu (sapi), garuda (elang), dan naga.
Lembuswana memiliki tanduk dan belalai lembu, bersayap dan bertaring garuda,
namun memiliki sisik naga dan ekornya berbentuk naga. Makhluk ini
adalah lambang kerajaan Kutai Kartanegara dan diyakini sebagai penjaga sungai
dan simbol keperkasaan, kebijaksanaan, dan perlindungan.
3. Naga
di Sumatra Utara: Pustaha Batak
Suku
Batak di Sumatra Utara memiliki konsep Naga Padoha yang merupakan naga
raksasa yang dipercaya bersemayam di dunia bawah. Dalam kosmogoni Batak, dunia
dibagi menjadi tiga bagian: dunia atas yang dihuni para dewa, dunia tengah
(bumi) yang dihuni manusia, dan dunia bawah tempat Naga Padoha. Naga Padoha
digambarkan pada sampul atau bilah Pustaha (kitab kuno Batak) sebagai
simbol yang melindungi pengetahuan atau sebagai peringatan akan kekuatan alam
bawah yang perlu dihormati.
4. Naga
sebagai Simbol Kekuasaan: Relief Candi
Di
berbagai candi kuno di Jawa, seperti Candi Borobudur dan Prambanan, naga sering
muncul dalam bentuk relief atau ukiran. Di sini, naga sering
berfungsi sebagai tangga pengaman atau pegangan tangan (disebut naga-taksaka)
yang melambangkan jembatan antara dunia manusia dan dewa, sekaligus sebagai
simbol penjaga dan penyucian
Legenda
naga modern juga muncul di kisah lokal. Misalnya, di Semarang-Demak, warga
bercerita tentang “manusia jelmaan naga” yang pernah muncul menanyakan arah
dengan ciri aneh. Konon, kalau naga ingin lewat, banjir dulu yang muncul mungkin
karena naganya belum bisa teleportasi. Naga jelmaan ini dipercaya piaraan Sunan
Kalijaga, sementara naga Sunan Gunung Jati kabarnya diubah menjadi keris, kini
tersimpan di Keraton Cirebon. Bisa jadi suatu saat keris itu kembali ke wujud
naga tapi untuk apa, ya?
Legenda
naga mengajarkan kita sesuatu: kekuatan sejati bukan soal fisik atau keabadian,
tapi kemampuan memurnikan diri, menjaga harmoni, dan terhubung dengan alam
serta dunia yang lebih luas. Naga itu bukan hanya cerita mistis, tapi cermin
perjalanan spiritual manusia. Jadi percaya bahwa naga itu ada?
Referensi:
- Bhattacharyya,
N. N. (2003). History of the Tantric Religion. Manohar.
- Campbell,
J. (1949). The Hero with a Thousand Faces. Princeton University
Press.
- de
Visser, M. W. (1913). The Dragon in China and Japan. Brill.
- Eberhard,
W. (1986). A Dictionary of Chinese Symbols. Routledge & Kegan
Paul.
- Plato.
Timaeus & Critias.
- Ricklefs,
M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200.
MacMillan.
- Al-Quran,
Surah Hud: 25–48.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar