Dalam dunia yang masih sarat patriarki, tubuh perempuan sering kali menjadi medan tempur ideologi, moralitas, dan pengendalian sosial. Isu kontrasepsi menjadi salah satu cerminan nyata bagaimana seksualitas perempuan dan laki-laki diperlakukan secara tidak setara. Namun akar dari banyak kesalahpahaman ini sebenarnya bisa dilacak ke satu hal mendasar: kurangnya pendidikan seks yang menyeluruh, ilmiah, dan setara gender.
![]() |
Ilustrasi bermacam alat kontrasepsi (Sumber: https://www.mediapromed.com/) |
Seksualitas
Perempuan vs. Laki-Laki dalam Dunia Patriarki
Dalam
struktur sosial patriarkal, seksualitas perempuan cenderung dikontrol ketat.
Perempuan yang mengekspresikan hasratnya sering dianggap "binal",
tidak bermoral, atau menyimpang. Sebaliknya, ekspresi seksual laki-laki sering
dipandang sebagai sesuatu yang "normal" dan bahkan dibanggakan.
Inilah wajah standar ganda yang tak adil namun terus dipelihara (hooks, 2000).
Pendidikan
seks yang minim dan bias gender memperparah situasi ini. Banyak orang tumbuh
dewasa tanpa pemahaman yang sehat soal tubuhnya sendiri, apalagi tubuh orang
lain. Dalam sistem yang mengagungkan kontrol terhadap tubuh perempuan,
ketidaktahuan menjadi alat kekuasaan.
Kontrasepsi
dan Beban yang Tidak Setara
Program
keluarga berencana (KB) hampir selalu dibebankan pada perempuan. Dari pil,
suntik, implan, hingga IUD—semuanya masuk ke dalam tubuh perempuan. Padahal
efek samping dari metode-metode ini tidak ringan: ketidakseimbangan hormon,
obesitas, gangguan jantung, bahkan masalah autoimun. Sayangnya, sebagian besar
perempuan tidak punya ruang aman untuk mengeluhkan atau bahkan sekadar
menyuarakan dampaknya (WHO, 2019).
Sementara
itu, laki-laki hanya disodori dua pilihan: kondom dan vasektomi. Minimnya
edukasi seksual membuat banyak laki-laki menganggap vasektomi sebagai ancaman
maskulinitas atau pelanggaran HAM. Padahal, secara medis, vasektomi jauh lebih
aman, tidak memengaruhi hormon, dan bersifat permanen hanya jika benar-benar
diinginkan (CDC, 2022).
Saat
Pendidikan Seks Jadi Solusi
Reaksi
negatif terhadap vasektomi dan kontrasepsi laki-laki menunjukkan betapa
rendahnya pemahaman publik tentang kesehatan reproduksi. Jika pendidikan seks
diberikan secara komprehensif—meliputi anatomi, fungsi tubuh, relasi setara,
hak reproduksi, hingga etika seksualitas—maka resistensi terhadap kontrasepsi
laki-laki dan mitos seputar tubuh perempuan bisa diminimalkan.
Pendidikan
seks bukan sekadar ajaran moral atau alat pencegah seks bebas, melainkan hak
dasar untuk memahami dan mengendalikan tubuh sendiri. Ini penting bagi
perempuan dan laki-laki, agar tidak ada lagi yang dikorbankan secara sepihak
dalam kebijakan reproduksi.
Membongkar
Ketimpangan Kontrasepsi
Jenis Kontrasepsi |
Laki-laki |
Perempuan |
Barier |
Kondom |
Kondom wanita, diafragma |
Hormonal |
Sangat terbatas |
Pil KB, suntik KB, implan, IUD hormonal |
Non-hormonal |
- |
IUD tembaga |
Permanen |
Vasektomi |
Tubektomi |
Efek Samping |
Minim |
Sangat bervariasi dan sering berat |
Stigma Sosial |
Hampir tidak ada |
Sangat tinggi |
Berikut adalah tabel terpisah yang merinci efek samping dan dampak umum
dari berbagai alat kontrasepsi, baik bagi perempuan maupun laki-laki:
Jenis Kontrasepsi |
Pengguna |
Efek Samping & Dampak |
Pil KB
(oral) |
Perempuan |
- Mual,
sakit kepala, nyeri payudara - Kenaikan berat badan - Risiko pembekuan darah
- Perubahan mood |
Suntik
KB |
Perempuan |
-
Gangguan siklus menstruasi - Berat badan naik - Penurunan libido - Perubahan
kepadatan tulang |
Implan
(susuk KB) |
Perempuan |
-
Pendarahan tidak teratur - Sakit kepala - Jerawat - Perubahan suasana hati |
IUD
hormonal |
Perempuan |
- Kram
atau nyeri saat pemasangan - Jerawat - Perdarahan ringan tidak teratur -
Nyeri panggul |
IUD
tembaga |
Perempuan |
-
Menstruasi lebih banyak dan lebih nyeri - Risiko anemia - Kram perut yang
kuat |
Tubektomi
(sterilisasi) |
Perempuan |
- Nyeri
pasca operasi - Risiko infeksi - Kadang terjadi perubahan hormonal -
Irreversibel |
Kondom
pria |
Laki-laki |
-
Alergi lateks (pada sebagian orang) - Iritasi ringan - Bisa robek jika tidak
digunakan dengan benar |
Kondom
wanita |
Perempuan |
-
Iritasi vagina - Kurang nyaman digunakan jika tidak terbiasa - Risiko
tergelincir |
Vasektomi |
Laki-laki |
- Nyeri
ringan dan bengkak pasca tindakan - Hematoma atau infeksi jarang terjadi -
Irreversibel meski kadang bisa dikembalikan |
Jelas
terlihat bahwa perempuan memikul beban lebih besar dalam urusan kontrasepsi.
Namun ketika ada program yang mencoba mendorong keseimbangan, seperti vasektomi
bagi laki-laki, justru muncul resistensi keras. Inilah bentuk pengabaian
terhadap keadilan reproduktif (UNFPA, 2021).
Mengapa
Banyak Perempuan Tak Berani Bicara?
Perempuan sering kali
bungkam karena:
- Takut distigmatisasi
- Tidak adanya ruang aman untuk bersuara
- Minimnya dukungan medis yang jujur
- Tuntutan sosial untuk "nrimo" dan setia
Tanpa
pendidikan seks yang membebaskan dan berbasis kesetaraan, perempuan akan terus
terjebak dalam budaya diam. Ketika seseorang menyuarakan ketimpangan ini,
suaranya bisa dianggap penghasutan. Padahal, yang dilakukan hanyalah
menyadarkan publik bahwa ketidakadilan ini nyata dan telah berlangsung lama
(Nash, 2019).
Jika kita betul-betul menjunjung keadilan, maka tubuh siapa pun—baik laki-laki maupun perempuan—tidak boleh dipaksakan atau dikorbankan demi sistem yang timpang. Wacana vasektomi seharusnya dilihat sebagai peluang menciptakan keadilan reproduktif, bukan ancaman. Sudah saatnya kita sadar bahwa kita hidup dalam buaian patriarki yang halus tapi mematikan. Dan seperti kata banyak aktivis feminis: Personal is Political (pribadi adalah politik) Termasuk pilihan atas tubuh kita sendiri.
Referensi:
- hooks, bell. (2000). Feminism is for
Everybody: Passionate Politics. South End Press.
- World Health Organization. (2019). Family
planning/Contraception methods.
- Centers for Disease Control and Prevention.
(2022). Vasectomy Fact Sheet.
- Connell, R. W. (2005). Masculinities (2nd
ed.). University of California Press.
- UNFPA. (2021). State of World Population: My
Body is My Own.
- Nash, J. C. (2019). Black Feminism Reimagined:
After Intersectionality. Duke University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar